Intelektual dan Kekuasaan



Sejarah perkembangan suatu bangsa seringkali tidak pernah lepas dari peran masyarakat terdidik. Sebuah masyarakat yang biasa dinamakan sebagai kelompok intelektual. Indonesia sendiri dalam perjalanan sejarahnya tidak lepas dari sepak terjang peran kelompok ini. Kelompok intelektual di Indonesia tidak pernah absen dalam setiap periode perubahan sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa. Mulai tahun 1908 hingga 1998 kelompok intelektual telah hadir sebagai kelompok yang berada di garda depan sebuah perubahan bangsa Indonesia. Kelompok ini pulalah yang menjadi pendobrak dalam perubahan metode perjuangan sebuah ide ataupun cita-cita. Perjuangan kemerdekaan melalui perang fisik menjadi sesuatu hal yang “basi” dan dianggap tidak efektif ketika kelompok ini menjadikan diplomasi sebagai alat perjuangan yang mereka anggap lebih ampuh dan tangguh. Dasyatnya kekuatan kelompok intelektual tidak sedikit yang membuat kelompok
status quo (penguasa) menjadikan kelompok intelektual sebagai pihak yang membahayakan kekuasaan. Kekuatan bagi kelompok intelektual tidak lagi dilihat dari kekuatan persenjataan akan tetapi dari kekuatan pemikiran. Pemikiran-pemikiran yang kritis menjadi senjata yang ampuh bagi kelompok intelektual untuk “menyerang” para penguasa yang otoriter. Saking kewalahannya para penguasa dalam mengendalikan kelompok ini mereka hingga harus menggunakan cara-cara yang di luar batas-batas kemanusiaan. Sudah banyak dicatat dalam sejarah bagaimana kelompok intelektual diperlakukan secara tidak manusiawi oleh penguasa yang lalim. 

Siapakah sebenarnya kelompok intelektual ini? Cendekiawan, cerdik pandai, maupun intelegensia merupakan istilah-istilah yang sering digunakan sebagai padanan istilah intelektual. Tidak sedikit kalangan yang menganggap kelompok intelektual adalah sebatas orang-orang yang berada dalam lingkungan akademik (kampus) semata, baik itu dosen maupun mahasiswa. Pemahaman tersebut wajar saja karena bisa jadi pemahaman tersebut muncul dari fakta sejarah perjalanan bangsa ini yang memang kelompok intelektual banyak didominasi orang-orang yang berlatar belakang mahasiswa atau pelajar. Siapa yang tidak mengenal sepak terjang Soekarno, Hatta, Sjahrir, Mohammad Yamin, Soetomo, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara? Mereka semua adalah sedikit contoh manusia-manusia pejuang Indonesia yang berlatar belakang pelajar. Mereka adalah kelompok intelektual yang menjadikan senapan bukan lagi sebagai alat perjuangan. Sebaliknya, alat utama perjuangan mereka adalah pemikiran yang diwujudkan dalam bentuk pamflet, artikel, buku maupun pengajaran.
Syed Hussein Alatas (1988) mengartikan seorang intelektual sebagai seseorang yang memusatkan diri untuk memikirkan ide dan masalah nonmaterial dengan menggunakan kemampuan penalarannya. Seorang intelektual mempunyai kemampuan dan kemauan berpikir dan mengetahui segala akibat dari setiap tindakan. Hal itulah yang membedakan antara seorang intelektual dan nonintelektual. Sementara Selo Soemardjan (1983) memberikan pembedaan antara seorang intelektual dan nonintelektual pada konteks kebebasan dalam berpikir. Seorang intelektual menjadi berbeda dengan seorang nonintelektual dikarenakan ia memiliki kecenderungan untuk berani melawan arus pemikiran orang lain. Lebih jauh menurut Selo Soemardjan cakupan konsep berpikir bebas seorang intelektual meliputi pengamatan yang cermat terhadap gejala-gejala di suatu lingkungan, pemahaman tentang sebab gejala-gejala tersebut dan korelasinya dengan gejala lainnya, dan pada akhirnya merumuskan suatu kesimpulan yang dapat dikomunikasikan kepada orang lain dalam bahasa yang jelas.
Apakah pemahaman arti intelektual yang dikemukakan oleh Syed Hussein Alatas dan Selo Soemardjan tersebut hanya merujuk pada pihak akademis an sich? Pemahaman intelektual yang dikemukakan Syed Hussein Alatas dan Selo Soemardjan tersebut memberikan makna bahwa seorang intelektual adalah personal yang mendasarkan pikiran dan tindakan pada analisis yang mendalam. Kedalaman analisis akan dapat tergapai bila seorang intelektual memiliki kemerdekaan dalam berpikir dan bertindak. Kemerdekaan inilah yang pada akhirnya menjadi kunci ketajaman seorang intelektual dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang terbentang. Kemerdekaan pula yang menjadi ihwal kejernihan sikap seorang intelektual. Penjara, pembuangan/pengasingan, represi, penyakit, serta kemiskinan pada kenyataannya bukan menjadi momok yang menakutkan bagi seorang intelektual yang memiliki jiwa yang merdeka. Dalam situasi dan kondisi apapun mereka akan terus menyuarakan kebenaran. Pada akhirnya makna intelektual tidak hanya didapatkan pada diri seorang pengajar (dosen) atau pelajar (mahasiswa) saja. Siapa saja yang memiliki karakter terhadap pemahaman intelektual tersebut maka dia dapat dikatakan sebagai seorang intelektual. Romo Mangunwijaya (1983) lebih eksplisit mengemukakan bahwa intelektual tidak ada sangkut pautnya dengan ijazah, status hierarkis dalam masyarakat, maupun formalitas resmi. Meskipun faktanya kebanyakan dari kelompok intelektual didominasi oleh orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi baik itu agamawan, penulis, wartawan, penyair, maupun pengamat.
Karakter kritis dan analitis dalam menyikapi permasalahan lingkungannya membawa kelompok intelektual sebagai pihak pendobrak kebuntuan dan agen perubahan. Tidak heran bila kelompok intelektual menjadi layaknya obor bagi masyarakatnya. Kelompok intelektual menjadi suluh bagi masyarakat yang bercita-cita menggapi perubahan dan perbaikan. Dorongan-dorongan perubahan dan kebebasan dari penjajahan serta pembodohan pulalah yang menjadi stimulus kemunculan kelompok intelektual bangsa Indonesia di awal abad 20. Meminjam ungkapan Romo Mangunwijaya, kelompok intelektual adalah pijar-pijar kebenaran bagi masyarakatnya. Dengan demikian kesesatan kelompok intelektual terhadap kekritisan dan pemihakan terhadap kepentingan masyarakat menjadi pertanda padamnya suar kebenaran bagi sebuah masyarakat.

Intelektual dalam Pusaran Kekuasaan
Kekuasaan menjadi salah satu kekuatan besar yang mampu mendorong sesatnya kelompok intelektual. Kekuasaan yang cenderung menjadikan penguasa sebagai parameter kebenaran akan membawa kelompok intelektual pada jebakan kekuasaan yang menyesatkan. Kebenaran hanya dianggap sebagai wilayah yang abu-abu, mengikuti karakter politik kekuasaan yang juga cenderung abu-abu. Pada wilayah ini kebenaran yang ada adalah kebenaran yang menguntungkan bagi eksistensi mereka. Tidak heran bila banyak pihak yang selalu mengkhawatirkan masuknya kelompok intelektual dalam pusaran kekuasaaan. Pada kondisi tersebut masyarakat khawatir bahwa kebenaran sejati bagi kelompok intelektual ini hanyalah kebenaran versi penguasa. Kuatnya cengkeraman kekuasaan terhadap kelompok intelektual pada gilirannya akan mampu meluluhlantakkan independensi pemikiran kelompok ini. Kekuatan kekuasaan memiliki potensi yang besar untuk menjadikan seorang intelektual menggunakan kapasitas intelektualitasnya sebagai kepanjangan tangan dan sekaligus penyambung lidah kekuasaan. Apalagi jika kekuatan kekuasaan tersebut bertumpu pada kekuatan yang represif terhadap masyarakatnya. Tidak mengherankan dalam kasus ini Julian Benda mengkritik dengan keras bahwa kelompok intelektual telah menjadi kelompok pengkhianat dengan menggadaikan intelektualitasnya kepada penguasa.
Di sisi lain bagi kelompok intelektual yang terlibat dalam lingkaran kekuasaan melihat kekuasaan sebagai peluang yang positif. Kelompok ini melihat kekuasaan sebagai sarana yang efektif untuk mewujudkan ide-idenya. Dengan terlibatnya kelompok intelektual dalam lingkaran kekuasaan mereka akan mampu mengontrol jalannya roda kekuasaan tetap dalam rel yang benar. Masuknya mereka dalam kekuasaan akan memudahkannya berperan serta dalam pengambilan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat luas. Sesuatu hal yang tidak akan dapat mereka lakukan ketika berada di luar kekuasaan.
Pada dua kondisi tersebut Soedjatmoko (1983) menilai bahwa kekuasaan telah menjadi dilema yang nyata-nyata selalu menghantui kelompok intelektual. Kelompok intelektual akan diselalu dihadapkan pada dua pilihan, antara masuk dalam sistem kekuasaan ataukah akan tetap berada di luar pagar kekuasaan. Terlibat secara aktif dalam kekuasaan dalam beberapa hal memang merupakan langkah yang strategis untuk mewujudkan sebuah idealitas. Namun sejauhmana dan sekukuh apa idealitas tersebut dapat terjaga pada akhirnya kembali pada moralitas dan etika seorang intelektual itu sendiri. Tidak sedikit intelektual yang terjerembah dalam kubangan noda kekuasaan karena telah terasuki ambisi (keserakahan) pribadi. Harta dan tahta (jabatan) seringkali menjadi jebakan kekuasaan yang sanggup menggoyahkan integritas intelektualitas seorang intelektual.
Bila merujuk pada kondisi faktual dan aktual yang ada saat ini kita bisa melihat tidak sedikit kelompok intelektual yang saat ini berada di dalam lanskap kekuasaan. Tentu saja kita yakin bahwa sejarah telah memiliki rapor tersendiri terhadapa mereka. Oleh karena itu kita serahkan saja penilaian kemanfaatan kelompok intelektual dalam kekuasaan kepada sejarah. Biarlah sejarah yang akan menjadi wasit sekaligus peniup peluit atas peran kelompok intelektual dalam pembangunan bangsa ini.  

3 komentar:

Ahmad Jayadi mengatakan...

wah bung, pas sekali. minggu lalu saya hadir di diskusi GREAT THINKERS di sekolah pascasarjana UGM. acara rutin bulanan membahas pemikir-pemikir besar dunia. minggu lalu topiknya "pemikiran Soedjatmoko: intelektual dan penjara kekuasaan". pembicaranya Buya Syafii Maarif dan Romo Haryatmoko. keren bung. asik banget.
kesimpulan buya:
"soedjatmoko terjun menjadi intelektual karena dia gagal menjadi politisi (PSI, bersama kakak iparnya, Sutan Sjahrir)."
"menjadi intelektual itu bukan pilihan tunggal, tapi kita bisa menjadi aktivis intelektual atau intelektual aktivis."
begitu dulu tanggapannya bung.
salut, salut..
saya senang sekali bahwa acara yg saya ikuti ternyata bung bahas di blog. padahal tanpa janjian. hehe.. pertemuan intelektual itu memang selalu menggairahkan..

yusuf risanto mengatakan...

itu namanya intelectual felling bung...hahahaha...just kidding, terkadang saya berpikir bahwa menjadi intelektual itu pekerjaan yg menjenuhkan sehingga ketika ada "godaan" yg menggiurkan secara aktivitas dan utamanya kekuasaan dan material, yah namanya juga manusia, akhirnya tidak kuasa untuk menolak untuk sekedar lari dari kejenuhan..tapi tentu tidak semua seperti itu..beruntung kita punya figur yg bisa kita jadikan teladan sbg aktivis intelektual sekaligus intelektual aktivis, dia yg kmu pasti tahu..hehehe..salam

Ahmad Jayadi mengatakan...

hahaha, sip bung. sip..
beruntung lah kita..
tuubaa-tsumma tuubaa kata bahasa arab.