Aplikasi Mobile Lebih Banyak Digunakan

Pengakses internet lebih banyak menggunakan aplikasi mobile daripadabrowser komputer.
Flurry membandingkan data statistiknya dengan data comScore dan Alexa. Hasil terakhir Juni menunjukkan konsumen lebih sering menggunakan aplikasi mobile untuk mengakses internet, ketimbangbrowser di komputer.
Rata-rata orang menghabiskan waktu 81 menit sehari untuk menggunakan aplikasi mobile, sedangkan mereka mengakses internet lewat komputer hanya 74 menit saja.
Menurut Mary Meeker dari Kleiner Perkins Caufield & Byers, selisih itu dikarenakan fungsi komputer sudah tergabung dalam tablet dan smartphone, menggantikan desktop dan notebook.
Aplikasi mobile paling banyak digunakan untuk mengakses situs media sosial, yakni sebanyak 47%. [mor]

Sumber: http://teknologi.inilah.com/read/detail/1630362/aplikasi-mobile-lebih-banyak-digunakan

Media Digital di Indonesia Tumbuh Pesat

VIVAnews - Dalam World Economic Forum (WEF) for East Asia ke 20 di Jakarta, masa depan dunia media digital di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik lainnya merupakan salah satu hal yang juga ikut dibahas.
Selain di Indonesia, dalam perhelatan WEF kali ini juga diulas seputar masa depan media digital di Asia Pasifik. Adapun partisipan yang terlibat dalam diskusi media digital ini berasal dari dalam dan luar Indonesia.
Dari luar Indonesia, peserta yang ikut terlibat anatara lain adalah perwakilan dari Yahoo, UBM, CBN, Facebook, Internet Society dan lain-lain. Sedangkan dari Indonesia diwakili Visi Media Asia, group Para dan First Media.
"Dalam sesi ini, delegasi Indonesia melihat perkembangan di sektor media digital khususnya media sosial atau social media yang sangat besar," kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, 13 Juni 2011. “Perkembangannya juga sangat pesat,” ucapnya.
Pesatnya perkembangan sosial media dalam beberapa tahun belakangan, kata Hatta, dapat dilihat dari bagaimana Indonesia telah menjadi pengguna Facebook kedua terbesar di dunia.
“Penetration rate-nya besar. Penggunaan internet juga terus meningkat,” kata Hatta. “Kini kita juga terus meningkatkan penetrasi broadband dengan membangun sebanyak mungkin infrastruktur ICT,” ucapnya.
Dalam hal informasi dan teknologi, kata Hatta, kita memerlukan investasi dalam bidang infrastruktur komunikasi yang nantinya berguna membantu meningkatkan akses data dan pertukaran informasi.
"Contoh proyek kerja sama yang telah dilakukan adalah pada proyek di Batam yang melibatkan negara-negara tertentu seperti Malaysia, Singapura dan Indonesia," kata Hatta.



sumber: http://teknologi.vivanews.com/news/read/226379-media-digital-di-indonesia-tumbuh-pesat

Nokia Bukan Lagi Nomor Satu


TEMPO InteraktifJakarta- Samsung Electronics Co Ltd akan menjadi pembuat ponsel pintar terbesar di dunia pada kuartal kedua ini. Artinya, untuk pertama kali sejak 1996 Samsung bakal menggusur Nokia sebagai rajanya ponsel pintar.
Pada kuartal berikutnya, diprediksi giliran Apple Inc yang bakal menggeser posisi Nokia. Itu artinya Nokia semakin terpuruk dan akan menempati posisi ketiga sebagai produsen ponsel pintar dunia.
"Pada 1996, Nokia meluncurkan Communicator dan pasar ponsel pintar terus dipimpinnya. Setelah sekitar 14 tahun di atas, Nokia bakal kehilangan posisi itu,” kata analis Nomura.
Di pasar ponsel pintar Nokia mulai kesulitan mengimbangi gempuran dari iPhone milik Apple dan perangkat Android dari Google inc. Di ponsel kelas bawah, Nokia juga mulai kalah bersaing dengan ponsel buatan Asia.
Meski begitu, secara keseluruhan, Nokia masih memproduksi ponsel lebih banyak ketimbang Samsung. Itu berkat posisinya sebagai spesialis pembuat ponsel dan jaringan distribusinya yang sudah mendunia.
TOI | FIRMAN


sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2011/06/13/brk,20110613-340454,id.html

Converse Kalahkan Nike dan Adidas di Facebook

TEMPO Interaktif --Jika diadu dalam situs jejaring sosial, siapakah produsen sepatu dunia yang paling unggul? Laman Mashable punya jawabannya. Produsen sepatu Converse-lah yang dinilai paling berjaya sekaligus bertengger di posisi teratas popularitas merek sepatu dunia.
Setidaknya kemenangan itu terlihat dari jumlah penggemar produsen sepatu dalam facebook. Converse kini memiliki sekitar 15 juta pengemar. Bandingkan dengan Nike dan Adidas yang masing-masing mendapat penggemar hanya seperempat dan seperdelapan dari penggemar Converse.
Menurut Direktur Pemasaran Converse Geof Cottrill, perusahaannya tidak melakukan langkah khusus untuk mendongkrak popularitas merek dagang di jejaring sosial. "Kami lebih banyak mendengar ketimbang berbicara,"katanya dalam Mashable Kamis, 5 Mei 2011.
Artinya, Geof melanjutkan, pemasaran kini harus memanfaatkan jejaring sosial dengan baik. Salah satu kuncinya adalah menjaga komunikasi dua arah antara produsen dan konsumen. "Kami bersikap apa adanya,"kata mantan Wakil Direktur di Global Entertainment Starbucks ini.
Converse adalah merek dagang perusahaan sepatu asal Amerika yang pertama kali memulai produksinya pada 1908. Kini Converse tercatat sebagai salah satu ikon merek dagang paling legendaris di dunia.

RUDY

Urgensi SNI bagi Pengembangan UMKM

Setelah mewajibkan 68 produk untuk memenuhi Standar Nasional Industri (SNI), kali ini Kementerian Perindustrian berencana menerapkan terhadap 21 produk pada tahun 2011 hingga 2012. Salah satu harapan Kementerian Perindustrian dengan adanya penerapan SNI pada 21 produk tersebut adalah konsumen tidak lagi dirugikan oleh produk-produk yang tidak layak digunakan karena dianggap belum memenuhi SNI. Sayangnya, rencana tersebut ditolak oleh beberapa pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang memproduksi produk-produk yang termasuk dalam kategori 21 produk wajib SNI. Beragam alasan diungkapkan oleh pelaku UMKM terkait dengan penolakan mereka atas rencana Kementerian Perindustrian untuk mewajibkan 21 produk memenuhi SNI. Beberapa alasan utama yang dikemukakan oleh pelaku UMKM terhadap penerapan SNI pada dasarnya tidak jauh dari permasalahan utama yang selama ini menjerat sektor UMKM. Persoalan permodalan, inovasi, maupun birokrasi merupakan beberapa alasan yang menjadi dasar penolakan pelaku UMKM untuk menerapkan SNI pada produk-produk mereka.